Yopi dan Prihadi tak kuasa Menahan Air Mata

Sadis! Dibunuh di depan keluarga, Bupati Indragiri dibuang ke sungai

Sadis! Dibunuh di depan keluarga, Bupati Indragiri dibuang ke sungai

Kapal Gajah Merah Datang, Setelah Pesawat Membombardir Kota Rengat | Beritariau.com 2015

Beritariau.com, Pekanbaru - Dua kapal perang yang datang dari arah perairan Tembilahan tiba-tiba berlabuh di Sungai Indragiri, Senin, 5 Januari 2015, sekitar pukul 09.00 Wib.

Dari dalam kapal perang bernama Gajah Merah itu, ratusan pasukan baret merah keluar dan membakar Markas TNI, Markas Polisi, Stasiun Radio, Sentral Telepon, gudang pelabuhan hingga Rumah Sakit.

Sebelum kapal perang itu datang, sejumlah pesawat telah membombardir Kota Rengat kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) dan menerjunkan pasukan payung. Seketika, bunyi bom yang meledak di tanah bersatu dengan pekik histeris warga yang panik.

 

Kapal Gajah Merah Datang, Setelah Pesawat Membombardir Kota Rengat

 

Berbekal senjata otomatis dan modern, pasukan penyerang makin ganas dan kejam. Mereka tidak bisa lagi membedakan yang mana TNI, tentara perjuangan rakyat serta masyarakat sipil yang tidak berdosa. Mereka juga menembaki anak-anak, ibu hamil dan orangtua.

Bahkan, dengan buasnya pasukan itu kemudian mengumpulkan lebih 2.000 penduduk dari segala penjuru Rengat. Mereka kemudian dibariskan di pinggir Sungai Indragiri.

 

Dari Kapal Gajah Merah Pasukan Baret Mera Turun ke Darat dan Menyerang Kota Rengat

 

Dan, terjadilah pembantaian massal warga Rengat. Sungai Indragiri yang kala itu tengah banjir berubah warna menjadi merah.

Bupati Indragiri yang mendapatkan laporan tentang penyerbuan di wilayahnya memilih tetap bertahan di Kota Rengat. Namun, ia kemudian ditangkap dan ditembak oleh pasukan penyerang tepat di depan istri dan anak-anaknya. Jasadnya dibuang di Sungai Indragiri bersama jasad ajudannya, Tandean, yang juga turut ditembak.

Itulah sepenggal visualisasi kilas balik peristiwa 5 Januari 1949 yang ditampilkan pada peringatan peristiwa bersejarah di Kota Rengat, Senin (05/01/15).

Kapal perang Gajah Merah milik Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL) alias Tentara Kerajaan Hindia Belanda, membawa pasukan Baret Merah atau disebut Korp Spesialie Tropen (KST) dibawah komando Kapten Skendel, menyerang dan membantai ribuan warga Kota Rengat termasuk Sang Bupati Indragiri, Tulus.

Adegan yang terjadi puluhan tahun silam itu, diperankan oleh sekitar 250 orang pemain dari berbagai latar belakang dan mampu membius para penonton.

Pasalnya, visualisasi ini terasa lebih nyata dan menyentuh, karena langsung menggunakan peralatan perang seperti senjata milik TNI, tagboad yang sudah didesain menyerupai kapal Belanda serta dentuman bunyi bom dan meriam yang memekakkan telinga.

Saking haru dan sedihnya menyaksikan visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 itu, Bupati Inhu Yopi Arianto, Komandan Korem (Danrem) 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto serta pelaku sejarah Imron Suherman serta saksi sejarah Dwi Yana yang merupakan cucu dari Bupati Tulus, meneteskan airmata.

Terlihat, Bupati Yopi Arianto beberapa kali terlihat menyeka airmatanya dengan menggunakan tisu. Hal itu juga dilakukan Danrem 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto, hingga matanya sembab.

Peristiwa itu ternyata cukup membekas bagi Cucu Bupati Tulus, Dwi Yana. Ia tampak tertunduk sembari terisak saat melihat adegan kakeknya dibunuh dengan kejam oleh Belanda dan jasadnya dibuang ke Sungai Indragiri.

Sebelum penampilan visualisasi tersebut, terlebih dahulu dilaksanakan upacara peringatan peristiwa 5 Januari 1949 tepat di depan tugu agresi.

Usai pagelaran visualisasi itu, dilakukan tabur bunga di Sungai Indragiri oleh Bupati Inhu H Yopi Arianto, Danrem 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto, Wakil Bupati Inhu H Harman Harmaini, Ketua DPRD Inhu Miswanto, Sekda Inhu Raja Erisman serta pelaku dan saksi sejarah.

Bupati Inhu H Yopi Arianto mengakui ia menangis ketika menyaksikan visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 tersebut. Ia merasakan bagaimana situasi yang terjadi pada saat itu hingga ribuan masyarakat menjadi korban kekejaman Belanda.

"Ini merupakan yang pertama kalinya kita tampilkan visualisasi peristiwa 5 Januari 1949. Saya punya cita-cita, mudah-mudahan tahun depan, kita bisa tampilkan juga visualisasi terjun payung pasukan Belanda dengan menggunakan pesawat Hercules," ujar Yopi.

Yopi menyampaikan permohonan maaf jika dalam visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 ada yang tak sesuai dan ia berharap peristiwa bersejarah tersebut bisa menjadi pelajaran bersama untuk generasi muda mengisi pembangunan.

Sementara itu, Danrem 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto mengungkapkan bahwa dari visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 tersebut tergambar begitu banyak pejuang yang gugur.

Sebab, kata Prihadi, mengutip ucapan Presiden Soekarno, 'Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya'.

"Luar biasa visualisasi yang ditampilkan, saya terharu dan sampai sekarang mata saya masih sembab,” tuturnya.

Sementara itu, salah seorang pelaku sejarah peristiwa 5 Januari 1949, Imron Suherman mengungkapkan bahwa visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 kembali membuka ingatannya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa bagaimana rakyat dibantai dan dibunuh oleh tentara Belanda.

"Kita doakan semoga arwah para pejuang diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Saya berpesan kepada generasi muda untuk mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan positif," pesan Jenderal bintang satu ini. [Pan]