Nova Protes, Pemko beralasan ada Aturan Kemenpan

Hasil Tes CPNS di Pekanbaru aneh, dapat Nilai tertinggi tapi tak lulus

Hasil Tes CPNS di Pekanbaru aneh, dapat Nilai tertinggi tapi tak lulus

Ilustrasi | Beritariau.com 2014

Beritariau.com, Pekanbaru - Konon katanya, tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang telah memakai teknologi canggih dan dikontrol langsung dari Pemerintah Pusat, pasti objektif. Jika berkualitas dan kompeten, pasti lolos.

Ternyata, hal itu bak sebuah dongeng cerita bagi Nova Rahmi (33), warga jalan Sakuntala No 69 Tangkerang Utara. Ia sangat kecewa lantaran tak lulus menjadi CPNS Pemko Pekanbaru. Padahal, ia menjadi pelamar dengan nilai tertinggi diantara peserta lainnya.

Pada Tes Kemampuan Pribadi (TKP), Nova mengantongi nilai 144, Tes Intelejensi Umum (TIU) dengan nilai 110, serta Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dengan nilai 90. Jika ditotal, Nova mengantongi nilai 344 dan berada di urutan pertama pada pilihan Ketiganya, yakni sebagai Guru Rekayasa Perangkat Lunak. Sedangkan, pelamar dibawahnya cuma mengantongi nilai 343 dan 322.

Selain sebagai Guru Rekayasa Perangkat Lunak, Nova yang telah lulus menjalani berbagai seleksi mulai dari administrasi dan lainnya sejak September 2014, Ia juga melamar sebagai Guru Teknik Komputer Jaringan dan Penggerak Swadaya Masyarakat serta.

Dari 3 pilihan itu, Ia dinyatakan lulus pada pilihan ke tiga yakni sebagai Guru Rekayasa Perangkat Lunak. Bahkan, keluar sebagai peseta dengan nilai tertinggi.

Aneh dan kecewa bagi Nova. Saat pengumuman Senin (29/12/14) kemarin, ia justru dinyatakan tak lulus dalam pengumuman. Padahal, jelas-jelas ia memiliki nilai tertinggi, serta lolos seluruh tes.

"Saat itu saya langsung ke kantor Pemko Pekanbaru ke Badan Kepegawaian Daerah (BKD) untuk mempertanyakan hal itu. Tapi pihak pegawai mengatakan bahwa, saya sudah terlambat untuk mengajukan protes. Kok bisa? Padahal, pengumumannya baru keluar hari itu juga," papar Nova, Rabu (31/12/14).

Sebagai pemilik nilai tertinggi, ia lolos pada pilihan Ketiga. Bahkan, jika merujuk pada nilai diatas, Nova juga harusnya lolos pada pilihan pertama dengan menempati urutan Kedua.

"Banyak keganjilan, mengurai ke belakang, kenapa saya tidak ditempatkan pada pilihan 1 diurutan Kedua, namun justru diposisikan pada pilihan Ketiga dan menempati posisi Pertama. Tapi biarlah, sekarang yang penting bagaimana kejelasannya," keluhnya.

Merasa penasaran, pada Rabu (31/12/14) Nova kembali mendatangi kantor BKD untuk mempertanyakan hak nya. Disini ia bertemu salah satu pegawai BKD.

"Saya lupa namanya, cuma dijawab mereka ada peraturan dari Kemenpan terkait keputusan itu, cuma dia nggak ketemu dimana dibunyikan peraturan itu," urai Nova menirukan.

Kini wanita lulusan D-3 Amikom Jogja serta lulusan S-1 Stemik Amik Riau hanya bisa berharap, agar pemerintah bisa berlaku adil dan bisa mendapatkan haknya sesuai kemampuan dan nilai yang ia peroleh. "Harus ada keadilan dan kejelasan kenapa," pintanya. [Pan]

Tags :# politik