Gagal di Sepak Takraw, Sumaya Justru Bawa Pulang Perak Asian Games dari Teqball

Gagal di Sepak Takraw, Sumaya Justru Bawa Pulang Perak Asian Games dari Teqball

Sumaya

Beritariau.com, Pekanbaru -- Kegagalan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjalanan. Bagi Sumaya, kegagalan justru menjadi pintu menuju panggung yang jauh lebih besar.

Perempuan asal Riau itu semula bermimpi mengikuti jejak kedua orangtuanya di cabang sepak takraw. Namun, ketika kesempatan membela Indonesia lewat olahraga tersebut belum berhasil diraihnya, Sumaya memilih mencoba sesuatu yang sama sekali baru.

Teqball.

Olahraga yang awalnya asing itu justru kemudian mengantarkan Sumaya ke panggung Asian Games di Nagoya, Jepang. Di ajang tersebut, ia tampil gemilang hingga akhirnya mempersembahkan medali perak untuk Indonesia.

Perjalanan Sumaya menuju podium tidak datang dengan mudah. Di Nagoya City Higashi Sports Center, ia harus melewati enam pertandingan sebelum akhirnya menjejak partai puncak.

Langkahnya diawali dengan kemenangan meyakinkan 2-0 atas Lebanon. Pada pertandingan berikutnya, Sumaya kembali tampil solid dan mengalahkan Myanmar dengan skor 2-0.

Ujian lebih berat datang saat menghadapi Kirgistan. Pertandingan berlangsung ketat hingga tiga gim. Sumaya akhirnya mampu mengamankan kemenangan 2-1.

Momentum tersebut terus dijaga. Menghadapi Kamboja, ia kembali meraih kemenangan 2-0 dan memastikan tiket menuju semifinal.

Di babak empat besar, Sumaya berhadapan dengan India. Pertandingan kembali berlangsung sengit, tetapi mental bertandingnya mampu membawa Indonesia melewati lawan dengan kemenangan 2-1.

Tiket final pun berada di tangan.

Namun, lawan yang menunggu di partai puncak adalah Myanmar, negara yang sebelumnya sudah pernah ia kalahkan di fase awal.

Kali ini situasinya berbeda.

Pertandingan final berlangsung ketat hingga akhirnya Sumaya harus mengakui keunggulan Myanmar dengan skor 1-2. Ia pun menutup perjuangannya di Asian Games Nagoya dengan medali perak.

Bagi Sumaya, menghadapi pertandingan besar bukan soal membebani diri dengan tekanan.

"Percaya diri saja, tidak ada mikir-mikir yang berat. Enjoy saja," kata Sumaya, Senin (21/9/2026).

Tumbuh di Keluarga Atlet

Kemampuan Sumaya tidak muncul secara tiba-tiba. Ia tumbuh dalam keluarga yang sangat dekat dengan dunia olahraga.

Ayahnya, Safrudin, merupakan pelatih sepak takraw. Sementara sang ibu, Khairani, adalah mantan pemain sepak takraw yang pernah memperkuat tim nasional Indonesia.

Sejak kecil, Sumaya sudah akrab dengan latihan dan dunia pertandingan. Kedua orangtuanya tidak hanya mengenalkan teknik olahraga, tetapi juga membentuk kedisiplinan, mental bertanding dan semangat untuk terus berusaha.

Karena itu, sepak takraw menjadi pilihan pertamanya.

Sumaya ingin meneruskan jejak kedua orangtuanya sekaligus meraih prestasi untuk Indonesia melalui cabang olahraga tersebut.

Kesempatan untuk mewujudkan impian itu pun sempat terbuka. Pada 2024, ia mengikuti seleksi sepak takraw di Sumatera Utara.

Namun, hasilnya belum sesuai harapan.

Namanya belum masuk dalam daftar yang diinginkan. Jalan menuju tim nasional sepak takraw pun kembali tertutup.

Di titik itulah perjalanan Sumaya berubah arah.

Dari Olahraga Asing Menjadi Jalan ke Asian Games

Ketika peluang di sepak takraw belum terbuka, Sumaya justru berkenalan dengan teqball.

Saat itu, cabang olahraga tersebut masih sangat asing baginya. Namun, Sumaya melihatnya sebagai kesempatan untuk kembali mengejar impian di dunia olahraga.

Ia mencoba.

Sumaya mengikuti pelatihan di Riau dan menjalani berbagai uji coba, pertandingan hingga ekshibisi. Dari sana, kemampuannya mulai terlihat dan perlahan berkembang.

Namanya kemudian mulai diperhitungkan di tingkat nasional.

Olahraga yang semula tidak dikenalnya justru membuka jalan menuju panggung internasional.

"Tuhan sepertinya memberikan jalan yang lain," ungkapnya.

Kalimat itu seolah menggambarkan seluruh perjalanan Sumaya. Ketika satu pintu tertutup, ia justru menemukan pintu lain yang membawanya jauh lebih tinggi.

Persiapan Panjang Menuju Nagoya

Sebelum berlaga di Asian Games, Sumaya menjalani persiapan panjang. Sekitar satu setengah bulan ia berlatih di Surabaya.

Setelah itu, persiapan dilanjutkan selama sepekan di Jakarta, tepatnya di kawasan Blok S.

Barulah setelah seluruh rangkaian persiapan tersebut rampung, Sumaya bertolak ke Jepang untuk menghadapi persaingan Asian Games Nagoya.

Kerja keras itu akhirnya terbayar.

Enam pertandingan dijalaninya hingga partai final. Lima kemenangan berhasil diamankan sebelum langkahnya terhenti di laga perebutan emas.

Medali perak pun menjadi buah dari perjuangan tersebut.

Performa Sumaya di partai final bahkan mendapat perhatian langsung Menteri BUMN Erick Thohir yang hadir menyaksikan pertandingan melawan Myanmar.

Setelah pertandingan, Erick Thohir menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih atas perjuangan Sumaya membawa nama Indonesia serta mempersembahkan medali perak.

Bagi Sumaya, dukungan tersebut menjadi tambahan motivasi setelah melewati perjalanan panjang menuju podium.

Kebanggaan dari Rupat

Di balik pencapaian Sumaya, ada dua sosok yang sejak awal tidak pernah berhenti memberikan dukungan: kedua orangtuanya.

Safrudin dan Khairani yang kini berada di Rupat, Kabupaten Bengkalis, tentu memiliki kebanggaan tersendiri melihat putrinya mampu berdiri di podium Asian Games.

Medali perak tersebut menjadi bukti bahwa kegagalan dalam satu kesempatan tidak harus menjadi alasan untuk berhenti mengejar mimpi.

Sumaya pernah gagal mendapatkan tempat di sepak takraw. Namun, ia tidak berhenti.

Ia berani mencoba olahraga baru yang sebelumnya tidak dikenalnya. Dari sepak takraw ia beralih ke teqball. Dari olahraga yang asing, ia kemudian menemukan jalannya sendiri hingga akhirnya tampil di Asian Games.

Kini, Sumaya masih berada di Jepang sembari menunggu waktu kepulangan ke Indonesia.

Dari seluruh perjalanan itu, ia memiliki pesan sederhana bagi anak-anak muda yang sedang mengejar impian.

"Jangan takut mencoba hal baru. Terus berjuang dengan sungguh-sungguh, fokus pada satu tujuan dan berikan yang terbaik."

Perjalanan Sumaya menjadi pengingat bahwa jalan menuju prestasi tidak selalu lurus. Terkadang, kegagalan justru memaksa seseorang mengambil arah berbeda.

Dan bagi Sumaya, arah berbeda itu bernama teqball.

Dari cabang olahraga yang awalnya asing, ia akhirnya membawa pulang medali perak Asian Games dari Nagoya untuk Indonesia. (*)