Ikan Sapu-Sapu Ancam Ekosistem Perairan, Dosen UIR Ingatkan Bahaya Spesies Invasif

Beritariau.com, Pekanbaru – Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) yang selama ini dikenal sebagai “pembersih akuarium” kini justru menjadi ancaman serius bagi ekosistem perairan air tawar di Indonesia. Spesies asal Sungai Amazon, Brasil ini tergolong ikan invasif dengan kemampuan adaptasi tinggi yang dapat menekan populasi ikan lokal.
Dosen Program Studi Akuakultur Fakultas Pertanian Universitas Islam Riau (UIR), Dr. Muhammad Hasby, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa ikan ini memiliki keunggulan ekologis yang membuatnya mudah berkembang di berbagai kondisi perairan.
“Spesies ini memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi dan sudah banyak dibuktikan dalam berbagai kajian ilmiah,” ujarnya.
Ikan sapu-sapu mampu bertahan di perairan tercemar dengan kadar oksigen rendah, bahkan memakan detritus, alga, hingga telur ikan lokal. Kondisi ini memicu kompetisi ekologis yang berdampak pada penurunan populasi ikan asli.
Selain itu, perilaku menggali lubang di tepi sungai dan danau untuk bersarang dapat menyebabkan erosi dan meningkatkan sedimentasi. Dampaknya, terjadi pendangkalan perairan yang mengganggu keseimbangan ekosistem.
Menariknya, ikan ini tetap mampu bertahan bahkan berkembang pesat di kondisi ekstrem, termasuk saat ikan lain mati akibat pencemaran. Kemampuan mengambil oksigen langsung dari udara membuatnya semakin dominan di perairan tercemar.
Dr. Hasby menegaskan perlunya strategi pengendalian terpadu, mulai dari pembatasan spesies asing, edukasi masyarakat, hingga pemanfaatan ikan sapu-sapu secara ekonomi agar tidak dilepasliarkan sembarangan.
Upaya lain yang disarankan meliputi penangkapan intensif, pengembangan nilai ekonomis ikan, regulasi perdagangan spesies invasif, serta restocking ikan lokal untuk pemulihan ekosistem.
Ia juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang masih memelihara ikan ini sebagai ikan hias lalu melepaskannya ke alam ketika tidak diinginkan, yang menjadi salah satu penyebab utama penyebaran di perairan umum.
Perubahan pola pikir masyarakat dinilai menjadi kunci agar ikan sapu-sapu tidak lagi menjadi ancaman, melainkan dapat dikelola sebagai sumber daya yang bernilai ekonomi. (*)

