SISKA Jadi Andalan Riau, Target 500 Ribu Ekor Sapi Kian Realistis

SISKA Jadi Andalan Riau, Target 500 Ribu Ekor Sapi Kian Realistis

Ilustrasi/Net

Beritariau.com, Pekanbaru - Pemerintah Provinsi Riau optimistis mampu meningkatkan populasi ternak sapi hingga 500 ribu ekor melalui penerapan Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA). Program ini dinilai menjadi solusi strategis dengan memanfaatkan potensi besar sektor perkebunan yang telah lama terintegrasi secara alami dengan aktivitas peternakan masyarakat.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Riau, Mimi Yuliani Nazir, menyebut bahwa kesiapan daerah didukung oleh luasnya lahan sawit serta pengalaman petani yang selama ini telah memelihara sapi di sekitar kebun mereka.

Untuk mempercepat implementasi, pemerintah telah membentuk tujuh klaster SISKA di lima kabupaten sebagai proyek percontohan. Klaster ini akan menjadi model pengembangan integrasi yang lebih modern dan terstruktur sebelum diterapkan secara lebih luas di seluruh wilayah Riau.

Saat ini, populasi sapi di Riau tercatat sekitar 206 ribu ekor. Angka tersebut dinilai masih jauh dari potensi maksimal, mengingat lahan perkebunan sawit diproyeksikan mampu menampung hingga 500 ribu ekor sapi jika dikelola secara optimal.

Selain kuantitas, kualitas ternak juga terus dijaga melalui dukungan ratusan petugas inseminasi buatan serta pola pemeliharaan yang mencegah terjadinya kawin sedarah. Di sisi lain, ketersediaan pakan dari limbah kelapa sawit seperti pelepah dan bungkil menjadi keunggulan tersendiri yang menekan biaya produksi peternak.

Meski prospeknya menjanjikan, pemerintah mengakui masih ada tantangan, terutama dalam membangun sinergi lintas sektor dan mendorong keterlibatan perusahaan perkebunan besar serta pekebun kecil dalam satu sistem manajemen terpadu.

Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga riset dan perguruan tinggi, Pemprov Riau optimistis SISKA akan menjadi pilar penting dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendorong ekonomi berkelanjutan di masa depan. (*)