Buka ICOP 2026, Sekda Riau Dorong Integrasi Sawit-Sapi untuk Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

Buka ICOP 2026, Sekda Riau Dorong Integrasi Sawit-Sapi untuk Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

Beritariau.com, Pekanbaru – Provinsi Riau kembali menegaskan perannya di kancah global dengan menjadi tuan rumah The 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference 2026, forum ilmiah internasional yang mempertemukan peneliti, akademisi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan sektor pertanian terpadu.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Riau, Syahrial Abdi, secara resmi membuka kegiatan tersebut dan mengajak dunia untuk melirik potensi besar integrasi kelapa sawit dan peternakan sapi sebagai solusi ekonomi berkelanjutan.

Menurutnya, kepercayaan menjadikan Riau sebagai tuan rumah menunjukkan posisi strategis daerah ini dalam pengembangan pertanian masa depan berbasis inovasi.

“Riau memiliki peran penting, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga global, dalam mendorong transformasi pertanian yang berkelanjutan,” ujarnya di Pekanbaru.

Sebagai provinsi dengan luas perkebunan sawit terbesar di Indonesia, Riau memiliki fondasi kuat untuk mengembangkan sistem pertanian terpadu. Data menunjukkan, sektor kelapa sawit masih menjadi tulang punggung ekonomi daerah dengan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Riau yang mencapai 4,79 persen pada 2025.

Lebih dari sekadar komoditas, sawit juga menjadi sumber penghidupan bagi ratusan ribu kepala keluarga di Riau. Hal ini menjadikan transformasi pengelolaan sektor tersebut menjadi semakin penting, terutama dalam menghadapi tantangan keberlanjutan dan efisiensi.

Dalam konteks ini, Syahrial menekankan pentingnya penerapan Sistem Integrasi Sapi dan Kelapa Sawit (SISKA). Model ini dinilai mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menciptakan sinergi antara sektor perkebunan dan peternakan.

“Kita tidak cukup hanya mengandalkan produksi, tetapi harus bergerak menuju sistem yang lebih berkelanjutan, efisien, dan bernilai tambah tinggi,” tegasnya.

Melalui ICOP 2026, diharapkan lahir berbagai inovasi teknologi dan rekomendasi kebijakan yang dapat diimplementasikan secara luas. Forum ini juga menjadi sarana pertukaran pengetahuan global guna mendorong pembangunan pertanian yang lebih inklusif dan berkelanjutan di masa depan. (*)