Teknologi Modifikasi Cuaca BRIN Antisipasi Kemarau di Riau

Teknologi Modifikasi Cuaca BRIN Antisipasi Kemarau di Riau

Beritariau.com, Jakarta - Humas BRIN, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerjasama dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) melakukan upaya pembasahan lahan gambut dengan memanfaatkan TMC untuk mengantisipasi bencana karhutla di Provinsi Riau. 

Pelaksanaan operasi TMC di Provinsi Riau dilaksanakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional melalui Laboratorium Pengelolaan Teknologi Modifikasi Cuaca (Lab. TMC) atas permintaan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) untuk melakukan kegiatan pembasahan lahan gambut di wilayah Provinsi Riau guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). 

Kegiatan TMC di Riau yang dimulai pada 17 Mei 2023 rencananya akan dilaksanakan selama 11 hari kegiatan sesuai permintaan dari BRGM dimana kegiatan kali ini merupakan TMC kerjasama BRIN dan BRGM yang pertama yang di tahun 2023.

Koordinator Laboratorium Pengelolaan TMC BRIN, Budi Harsoyo, dalam keterangan tertulisnya mengatakan bahwa operasi TMC dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi solusi permanen dalam upaya pengendalian bencana karhutla di indonesia. BMKG memprediksi fenomena El Nino yang akan terjadi tahun ini akan lebih tinggi indeksnya dari tahun sebelumnya yang mengakibatkan potensi bencana karhutla yang lebih besar. Oleh karena itu seperti juga pelaksanaan TMC di tahun-tahun sebelumnya dilakukan lebih awal untuk tujuan pembasahan lahan gambut (re-wetting). 

Target Operasi TMC kali ini adalah untuk menjaga tinggi muka air tanah gambut agar tetap berada di batas atas ambang batas (threshold) kekeringan, sehingga lahan gambut tidak mudah terbakar dan potensi kejadian karhutla dapat dikurangi, ujarnya. 

Budi menjelaskan , kondisi cuaca yang relatif kering karena sebagian wilayah Provinsi Riau sudah mulai masuk musim kemarau ditambah semakin tingginya indeks NINO3.4 yang mengindikasikan dimulainya fenomena El Nino menyebabkan potensi kemunculan titik panas (hotspot) yang menjadi asal muasal bencana kebakaran hutan dan lahan juga semakin meningkat, Dari data sebaran titik panas yang tertangkap satelit NASA-MODIS yang dipublikasikan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam situs SIPONGI, pada bulan April 2023 lalu telah muncul setidaknya 130 titik panas dengan tingkat kepercayaan menengah hingga tinggi (di atas 50%) di Provinsi Riau. Sedangkan untuk bulan berjalan, hingga 16 Mei 2023, tidak kurang dari 80 titik panas telah terpantau di Provinsi Riau. Sementara itu dari pantauan Sistem Pemantau Air Lahan Gambut (SIPALAGA) yang dipublikasikan oleh BRGM, 17 dari 23 stasiun pemantauan tinggi muka air lahan gambut yang saat ini masih online menunjukkan status rawan. Artinya sebagian besar lahan gambut yang ada di Provinsi Riau sudah mengering dan ketinggian air dalam tanah sudah lebih rendah dari 40 cm di bawah permukaan tanah. 

Sementara itu Kepala Pokja Restorasi Gambut Wilayah Sumatera, Susilo Indrarto, yang memiliki tugas utama mencegah dan memperbaiki lahan gambut agar tidak rusak mengatakan bahwa BRGM siap memfasilitasi TMC semoga bisa berjalan efektif, tepat manfaat dan menjadi barokah sehingga kabut asap tidak terjadi. 

Menurut Agus Yasin, Kepala Pokja Teknik Restorasi BRGM, sesuai arahan Menkomarves dan Kepala BMKG pada rakornas 26 April 2023 tentang upaya TMC sebagai pencegahan bencana karhutla, menyampaikan terima kasih karena TMC bisa dimulai lebih awal sehingga bisa mendapatkan potensi awan lebih banyak. 

Lahan gambut di Provinsi Riau sangat luas dan sumber air lahan gambut hanya hujan, sehingga dengan TMC sangat bermanfaat untuk mengisi air pada lahan gambut. Pokja MONEV BRGM nanti bisa membantu ikut memonitor tinggi muka air lahan gambut di Provinsi Riau. Selain Riau masih ada lokasi lain yang diproyeksikan untuk bisa melaksanakan TMC, papar Agus. Dalam kesempatan ini juga Agus secara resmi membuka rangkaian kegiatan TMC di Provinsi Riau.

Sebagai tuan rumah pelaksanaan kegiatan TMC di Provinsi Riau, Komandan Lanud Roesmin Nurjadin yang diwakili oleh Kasioslat Dinas Operasi Lanud Roesmin Nurjadin (RSN), Mayor Anugrah Gigih Pratama, mengingatkan bahwa Provinsi Riau termasuk dalam daerah rawan karhutla karena dominannya lahan gambut. 

"Lanud RSN nantinya juga akan berkoordinasi untuk melaksanakan water bombing jika memang sudah terpantau adanya titik api. Namun sebelum itu terjadi, upaya TMC tetap diutamakan untuk membasahi lahan gambut. Lanud RSN siap mendukung kegiatan TMC, selama masih ada potensi awan, lebih baik untuk dimaksimalkan. Tujuan utamanya untuk mewujudkan Provinsi Riau Bebas Asap dengan mengkoordinasikan seluruh sumberdaya yang ada", ujar Gigih.

Seperti diketahui, daerah Riau memiliki area lahan gambut yang cukup luas dan rentan terjadi kebakaran saat musim kemarau. Untuk itu maka pada musim kemarau ini perlu dilakukan antisipasi sedini mungkin upaya-upaya pembasahan lahan dengan memanfaatkan TMC untuk meningkatkan intensitas curah hujan. Harapannya, dengan adanya hujan maka kolam-kolam penyimpanan air pada lahan gambut dapat terisi dan menjaga tinggi muka air tanah (TMAT) lahan gambut terjaga kelembabannya sehingga dapat mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan. (*)