Garap 4.000 Ha Lahan Jagung di Batu Teritip, Mega Eltra Dukung Ekosistem Pertanian Berkelanjutan

Garap 4.000 Ha Lahan Jagung di Batu Teritip, Mega Eltra Dukung Ekosistem Pertanian Berkelanjutan

Kepala Cabang PT Mega Eltra di Pekanbaru, Widya Santi/Dok. Mega Eltra

BeritaRiau.com, Pekanbaru - Warga Kampung Sinepis, Kelurahan Batu Teritip, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, Provinsi Riau yang mayoritas adalah petani dan nelayan sepertinya bakal tersenyum lebar dengan rencana PT Mega Eltra mengembangkan lahan pertanian di kampung itu.

Tak tanggung-tanggung, salah satu anak perusahaan PT Pupuk Indonesia yang notabenenya adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu akan mengembangkan tanaman jenis jagung (Zea mays ssp. mays) di atas lahan sekitar 4000 hektare lewat Program ‘Mari Kita Majukan Usaha Rakyat’ (Makmur) di daerah yang termasuk ke dalam daerah Terdepan, Terpencil dan Tertinggal atau biasa disingkat 3T itu. Program ini merupakan inisiatif PT Pupuk Indonesia (Persero) sebagai upaya solusi pertanian dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani.

Kepala Cabang PT Mega Eltra di Pekanbaru, Widya Santi, kepada media ini menerangkan kalau ini salah satu rencana besar PT Mega Eltra cabang Pekanbaru setelah sebelumnya juga terlibat dalam kerja sama program Makmur di wilayah Riau dengan ditandatanganinya nota kesepahaman pada Agustus 2022 di kantor PTPN V, Pekanbaru yang dihadiri PT Pupuk Indonesia, PT Mega Eltra, PTPN V, PT Iskandar Muda, PT Pupuk Sriwidjaya Palembang dan KUD Plasma PTPN V. Penandatanganan MoU dibuat antara Mega Eltra dalam hal ini diwakili oleh Widya Santi, Kepala Cabang Pekanbaru dengan KUD Tunas Muda, KUD Tani Makmur dan KUD Karya Sawitri yang disaksikan oleh PTPN V dan PT Pupuk Iskandar Muda sebagai Leader Program Makmur. Program ini merupakan Program Makmur perdana di wilayah Riau khususnya di Kabupaten Kampar dengan cakupan lahan seluas 188 hektar. 

Dan jika ini jadi, maka ini Program Makmur selanjutnya yang akan dijalankan di Riau. Widya Santi sangat optimis dengan rencana ini, apalagi lahan 4.000 hektare yang disebut ini berada dalam satu hamparan, dan untuk mendapatkan lahan seperti saat ini rasanya sangat sulit sekali.

“Di mana lagi kita dapat lahan yang seluas itu, satu hamparan, tidak terpisah-pisah dan sebagian juga telah dimanfaatkan petani setempat untuk bercocok tanam, saya begitu semangat, bahkan saya bersama tim juga sudah turun langsung ke lokasi, meski jauh karena harus ditempuh melalui jalur air karena lebih dekat, namun saya sangat yakin ini akan jadi,” ujarnya, Senin, 17 Oktober 2022 di kantornya, di Jalan Parit Indah, Pekanbaru. 

Menurut dia, Mega Eltra dipercaya menjadi koordinator dan supervisi untuk Program Makmur di Provinsi Riau, adapun yang memang tengah dijajaki adalah rencana Program Makmur di Desa Sinepis, Kecamatan Sungai Sembilan, Kota Dumai, dengan luas mencapai 4.000 hektare itu.

“Terbayang gak kalau lahan seluas itu ditanami jagung? artinya kalau ditanami dan menghasilkan, kita bisa bangun pabrik pakan di Dumai nantinya, itu salah satu target kita nanti, tapi yang terpenting adalah bagaimana petani di sana  bisa sejahtera dan menikmati hasil dari program ini,” ujarnya.

Usai melakukan survei lokasi, PT Mega Eltra tengah menyiapkan langkah-langkah lanjutan, seperti mencari pemberi modal untuk para petani, dalam hal ini adalah perbankan daerah ataupun bank-bank BUMN.

“Kalau ini sudah beres, nantinya kami di Mega Eltra akan melaksanakan peran sebagai agro input untuk para petani, seperti penyediaan benih jagungnya, pupuk, dan hal-hal lain yang diperlukan selama masa tanam. Perlu dicatat, petani ini tidak akan menerima modal dalam bentuk uang dari perbankan, melainkan dalam bentuk benih dan semua kebutuhan penunjang pertanian,” terang Widya Santi yang mengaku semasa kuliah aktif sebagai mahasiswa pecinta alam atau Mapala.

Agar program ini bisa berjalan sesuai harapan dan hasilnya betul-betul sesuai dengan target yang dicanangkan, pihaknya juga menggandeng Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) dari Universitas Riau yang nanti bertugas melakukan analisis kondisi tanah yang akan digarap. Dari situ maka akan diketahui jenis pupuk apa yang diperlukan atau hal-hal lainnya yang diharapkan bisa membantu petani mendapatkan hasil panen terbaik.

“Nanti kita juga menggandeng instansi atau lembaga lainnya terutama pemerintah daerah, nanti mereka bisa memberikan pelatihan dan lainnya yang kita harapkan bisa memberikan ilmu kepada para petani sehingga bisa lebih memahami proses bercocok tanam hingga panen yang kekinian atau lebih modern lah. Jadi akan ada tenaga ahli yang mendampingi,” ucapnya. 

Kalau urusan modal dan SDM petani sudah bisa diatasi, maka yang perlu dipikirkan nantinya adalah bagaimana memasarkan hasil panen yang sebanyak itu, mengingat sejumlah daerah di Riau juga menghasilkan komoditas ini, jika dipanen pada waktu yang bersamaan maka ini akan merugikan petani.

“Ini juga jadi salah satu fokus kita, tentu kita harus memberi garansi kepada petani kalau masalah pemasaran tidak ada masalah, petani kita tak perlu memikirkan itu, kita nanti yang akan menampung hasil pertanian itu, caranya tentu sudah kita pikirkan, kita akan distribusikan ke PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk dan yang lainnya,” ujar Kacab dengan antusias.

Bahkan Mega Eltra sendiri menurutnya juga akan mempertimbangkan untuk mendirikan pabrik pabrik pengolahan jagung pipil di Kota Dumai jika memang produksi jagung melimpah, karena seperti diketahui saat ini Riau masih kekurangan bahan baku jagung juga.

“Itu baru jagung, tentu kita terbuka untuk pengembangan potensi pangan lainnya yang bisa dikembangkan di Riau, namun kita juga tidak mau latah, kita pelajari dan kita kembangkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kita, jangan karena lagi ramai nanam jagung lantas kita tanam juga, tapi kita lihat potensinya,” ujar Widya Santi.

Dilanjutkannya, Mega Eltra terbuka untuk pengembangan program Makmur di Riau khususnya, anak perusahaan BUMN ini terus berupaya menjajajaki kemungkinan-kemungkinan pengembangan potensi pangan yang tentu harus sejalan dengan program Makmur, meski tak semudah membalik telapak.

Keterangan Foto: Suriyanto (kanan), Wakil Ketua Poktan Sumber Alam Makmur Jaya memperlihatkan hasil panen jagungnya

Petani Batu Terititip Siap Mendukung

Pucuk dicinta, ulam pun tiba, rencana Mega Eltra bak gayung bersambut, Kelompok Tani (Poktan) Sumber Alam Makmur Jaya yang berada di Batu Teritip menyambut baik niat mulia itu karena sejatinya mereka sejak lama butuh modal untuk mengembangkan lahan pertaniannya.

“Memang di sini ada 4.000 ha lahan yang masuk dalam kawasan kemitraan yang diberikan izin oleh Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup sejak 5 Januari 2017 lalu, sebagian memang sudah kita garap, tapi masih kecil sekitar 200 ha, ditanami padi dan juga jagung, di kawasan ini juga ada pesantren, karena memang diberikan izin untuk itu, juga ada fasilitas umum dan fasilitas social,” kata Suriyanto, Wakil Ketua Poktan Sumber Alam Makmur Jaya kepada media ini, Kamis, 27 Oktober 2022.

Mantan Kadis Kearsipan dan Perpustakaan Kota Dumai itu mengakui kalau pihaknya memang sudah bertemu langsung dengan pimpinan Mega Eltra cabang Pekanbaru dan melihat langsung ke lokasi di Batu Teritip, Dumai, beberapa waktu lalu.

“Ada banyak hal yang kami bicarakan, namun pada intinya, kami sebagai petani di sini sangat menyambut baik kalau memang rencana itu bisa direalisasikan, karena persoalan-persoalan yang selama ini kami hadapi akan teratasi jika Program Makmur itu bisa diterapkan di daerah ini,” harapnya.

Persoalan utama yang dihadapi petani di daerahnya adalah modal, karena ternyata butu modal yang cukup besar untuk pengembangan jagung ini, Suriyanto menjelaskan, untuk 1 ha lahan jagung dibutuhkan modal lebih kurang Rp 27 juta itu untuk lahan yang sudah siap tanam untuk penanaman perdana, selanjutnya biaya ini akan berkurang pada penanaman kedua, nantinya hanya butuh biaya Rp12 juta/ha dan begitu juga selanjutnya.

“Masalah kami selama ini ya modal ini, makanya kami tidak mampu mengembangkan lahan ini lebih luas lagi, kalau nanti jadi Program Makmur-nya, kami percaya ini bisa teratasi, karena kemaren mereka bilang akan mencarikan bank-nya yang bisa memberikan modal usaha, mereka juga akan bantu pemasarannya,” sebut Suriyanto.

Kalau soal pemasaran menurut dia selama ini sebenarnya tidak ada masalah berarti, bahkan apa yang mereka hasilkan juga belum mampu menenuhi kebutuhan untuk Kota Dumai saja, tapi nanti kalau dikembangkan lahannya lebih luas lagi, mungkin baru muncul masalah bagaimana memasarkan hasil panen sebanyak itu.

“Sebetulnya yang jadi masalah lainnya adalah mengangkut hasil panen ini ke Dumai, karena alat transportasi yang ada saat menggunakan kapal, kapal ini hanya mampu membawa sekitar 5 ton jagung saja sekali jalan, ini mungkin nanti perlu dipikirkan lagi, karena kalau jumlahnya besar diperlukan kapal besar juga,” sebutnya.

Ada alternative lainnya menggunakan jalur darat, namun diakuinya ini memakan waktu yang jauh lebih lama sekitar 5 jam perjalanan. 

Keterangan Foto: Poktan Sumber Alam Makmur Jaya 

Diakuinya memang perhatian pemerintah daerah masih sangat kurang sekali, walaupun ada 
Upaya atau rencana untuk membangun sejumlah infrastruktur pendukung, seperti pelabuhan dan juga Bandar udara (Bandara) di kawasan tersebut.

“Satu lagi yang memang masih perlu kita komunikasikan adalah soal kontrak lahan, mereka mintanya 30 tahun, menurut kami teralu lama, kami minta 5 tahun saja, lalu dievaluasi, kalau oke kita lanjut 5 tahun lagi, begitu seterusnya. Soal kewajiban menggunakan pupuk dari Pupuk Indonesia menurutnya tak ada masalah, itu bagian dari perjanjian kerjasama,” ujarnya. 

Namun dia juga mengingatkan bahwa lahan ini letaknya tak begitu jauh dari laut, elevasinya sekitar 5 meter di atas permukaan laut, makanya saat terjadi pasang, sebagian lahan akan terendam air, ini menurutnya juga perlu diperhatikan jangan sampai nanti mengganggu proses tanam jagungnya.

Pihaknya berharap agar kerjasama ini bisa terwujud, karena yang nanti akan merasakan manfaatnya adalah petani di Batu Teritip yang saat ini bisa dibilang belum sejahtera. 

“Kalau untuk sekadar hidup ya aman, tapi kalau dibilang sejahtera belum lah, mudah-mudahan Program Makmur ini bisa mewujudkan keinginan tersebut,” harapnya. 

Sebagai catatan, sebelum diganti nama menjadi Program Makmur, program ini sebelumnya bernama Agrosolution ini dan telah diimplementasikan di seluruh wilayah tanah air. Pada tahun 2021, target luasan lahan Program Makmur seluas 50.000 hektare. Adapun, komoditas yang menjadi fokus dalam program ini mulai dari padi, jagung, cabai, kelapa sawit, singkong, kopi, lada, kakao, bawang merah, tebu, tembakau, nanas, dan manggis.

Tahun ini, PT Pupuk Indonesia (Persero) menargetkan total luasan tanam Program Makmur seluas 250,000 hektare yang tersebar di seluruh Indonesia dengan penjualan pupuk non subsidi diharapkan bisa mencapai 125,000 ton. Bertahap akan naik target luasannya hingga tahun 2024 diharapkan bisa dicapai 4,000,000 hektar. Sementara untuk jumlah petani yang terlibat pada tahun 2024 tersebut ditargetkan mencapai 4.000.000 orang. (*)