Kaum Miskin di Pusat Kota

Santuni kaum dhuafa Bagan Batu, Pemilik Butik Lin Fashion Sedih

Santuni kaum dhuafa Bagan Batu, Pemilik Butik Lin Fashion Sedih

Lin, Pemilik Butik (berkaca mata), berfoto bersama Opung Siagian | Beritariau.com 2015

Beritariau.com, Bagan Batu - Pengusaha Butik Lin Fashion yang berada di jalan Jenderal Sudirman Km 2 Bagan Batu Kelurahan Bahtera Makmur Kecamatan Bagan Sinembah, sumbangkan 14 paket sembako kepada 14 Kaum Duafa yang ada di sejumlah tempat di kecamatan Bagan Sinembah, Sabtu (17/01/15).

14 paket yang dibagikan itu, antara lain, 5 paket di Jalan Nuansa Indah Kelurahan Bahtera Makmur Kota, 3 Paket di Kalan Pembangunan (Prumnas) Kelurahan Bagan Batu Kota, 1 Paket di Jalan Hangtuah (Sukatani Dua) Kelurahan Bagan Batu Kota dan 5 Paket di jalan Kolam Pancing paket F Kepenghuluan Bagan Batu.

Dikatakan Lin, si pemilik Butik, berbagi kepada sesama adalah merupakan tanggung jawab bersama. Ia percaya bahwa apa yang dimilikinya saat ini ada juga hak para kaum duafa di dalamnya.

"Mereka (kaum duafa, red) adalah saudara kita, kita punya tanggung jawab atas itu," katanya sembari mengatakan bahwa acara itu akan menjadi agenda rutin keluarganya.

Dari 14 kaum duafa yang dikunjunginya, menurut Lin, ada beberapa yang kehidupannya sangat memprihatinkan sehingga membuat dirinya sangat terharu, adalah Opung Nuraini Br Siagian (65) yang tinggal di Jalan Nuansa Indah Kelurahan Bahtera Makmur Kota, dan kakek Kadri (90), warga jalan Hangtuah (Sukatani dua) yang tak jauh dari hiruk pikuk pusat Kota Bagan Batu.

Dikisahkannya, Opung Boru Siagian yang setua itu, harus menghidupi tiga cucu perempuannya yang berstatus anak Yatim dan Piatu. Karena cucunya yang tak ingin tinggal bersama Ayah dan ibu tiri, mau tak mau, Opung yang tinggal sendiri dan tak mempunyai penghasilan itu, harus mengurus sendiri cucu-cucunya itu.

"Walau pun makan kami dari dari belas kasih, tapi kami tetap bersyukur. Karena rezeki kami sudah diatur Allah," ujar Opung, seperti ditirukan Lin kepada awak media sambil menyeka air matanya.

Lain halnya dengan kakek Kadri (90) yang bekerja menjaga makam pribadi milik orang lain di Jalan Hangtuah (Sukatani Dua).

Kakek tua itu hidup sendiri dan makan pun hanya dengan nasi aking (nasi sisa yang masak berulang kali hingga berhari hari). Bahkan, kata Lin, kakek yang sudah hampir tak dapat melihat itu pun tidur hanya dengan beralaskan goni (karung bekas beras) diatas lantai tanah.

"Gak nyangka, di keramaian kota Bagan Batu ini masih ada orang yang seperti ini," ungkap Lin lagi dengan nada sedih.

Yang paling mengharukan lagi, saat Lin menawarkan nasi kateringan untuk kakek Kadri, dengan santun, Ia menolak karena tak mau merepotkan orang lain.

"Mudah-mudahan nanti kegiatan ini rutin kita lakukan. Terutama untuk daerah sini (Nuansa Indah). Dan orang seperti Opung Nuraini Br Siagian dan kakek Kadri inilah yang lebih kita prioritaskan kedepannya," ujarnya.

Ditambahkannya, bentuk solidaritas ini, dilakukan semata-mata demi rasa kemanusiaan. Disamping juga untuk menggugah para pengusaha-pengusaha lain baik itu pengusaha tionghoa maupun pengusaha pribumi agar bisa mengurangi beban kaum dhuafa yang memang wajib dibantu.

Selain itu juga, Ia berharap, agar pihak Pemerintah khususnya Pemkab Rokan Hilir berperan lebih besar dalam mengentaskan kemiskinan.

"Semata hanya demi rasa kemanusiaan, dan tentunya bisa menggugah teman-teman pengusaha lainnya untuk berbagi. Terlebih, mendorong peran pemerintah agar lebih besar serius mengutamakan dalam mengentaskan kemiskinan," bersama sejumlah awak media. [Bim]