Komunitas Literasi SCW Gelar Bincang Buku 'Kepadamu Kami Bicara' Karya Iyut Fitra
Foto bersama usai acara Bincang Buku karya Iyut Fitra di Rumah Baca SCW
Beritariau.com - Komunitas Literasi Salmah Creative Writing (SCW) kembali menggelar Bincang Buku, Sabtu (17/9/2022) di Rumah baca SCW Pekanbaru.
Kali ini yang diperbincangkan adalah Buku Kumpulan Puisi karya Penyair asal Sumatera Barat, Iyut Fitra yang berjudul 'Kepadamu Kami Bicara'
Founder SCW, Siti Salmah mengatakan, kegiatan ini bukti dari komitmen komunitas literasi SCW untuk terus menggiatkan kegiatan diskusi buku, pelatihan dan sebagainya.
"Kegiatan ini rutin kita lakukan, harapannya ini semakin membudayakan kegiatan diskusi di kalangan penyair, guru, mahasiswa dan komunitas literasi," ujarnya.
Tak hanya buku-buku karya penyair atau penulis asal Riau, tapi juga di luar Riau yang diperbincangkan di Rumah Baca SCW.
"Seperti hari ini, karya Iyut Fitra dari Sumbar, sepanjang itu menarik untuk diperbincangkan, maka akan kita diskusikan di sini," ujarnya.
Adapun para pematik diskusi Bambang Kariyawan, Maurparsaulian dan Muhammad Asqalani eNeSTe. Sementera para peserta selain dari anggota komunitas SCW juga dari kalangan mahasiswa UIN Suska Riau.
Bambang Kariyawan dalam ulasannya mengatakan struktur puisi dalam buku ini berisikan fragmen-fragmen detil tentang perubahan sebuah kota yang disimbolkan melalui benda-benda yang pernah mengiringi waktunya.
"Penyair agaknya sedang melakukan eksperimen terhadap pengkaryaan dengan menghadirkan struktur puisi yang berbeda. Dalam pengantar buku ini Esha Tegar Putra menguatkan pernyataan tersebut."
Puisi-puisi dalam kumpulan ini menjadi penanda pergantian fase dan perubahan model perpuisian Iyut Fitra, sekaligus sebuah upaya dari seorang penyair untuk merawat ingatannya terhadap sebuah kota, dan ruang reflektif untuk melakukan pembacaan terhadap sebuah perubahan.
Terlepas dari itu penyair agaknya yakin bahwa melalui puisilah akan tetap terjaga kenangan-kenangan atas perubahan-perubahan yang telah dipaksakan menghilang. Walaupun terkadang puisi-puisi itu tidak ditempatkan sebagai media merawat kenangan itu. Entahlah. Akhirnya “Puisi Barangkali” halaman 44.
Sementara itu, Murparsaulian memaparkan kalau puisi-puisi panjang Iyut Fitra dalam buku bertajuk ‘’Kepadamu Kami Bicara’’, mengusung tema realitas sosial yang terjadi saat ini. Begitu menyentuh dan mengalir. Terkadang Ia hadir dengan gaya Aku Liris, lalu kemudian tiba-tiba berubah menjadi sajak imaji. Iyut membancuhkan dua gaya ini, Aku liris dan Imaji.
Saya ambil contoh halaman 19; ‘’aku layang-layang yang terbang ke angkasamu-benangnya diulur seorang bocah yang mungkin putus sekolah. Pensil tak terbeli-baju seragam pasti mahal-sebuah kaleng susu dan mimpi yang tak sempat dipintal- di atas kotamu kulihat susunan harapan rubuh’’.
Aku liris yang dihadirkan Iyut Fitra mengekspresikan emosi atau perasaan personalnya. Seperti puisi di atas disajikan dengan molek dan tertata, sehingga membuat pembaca mampu memahami dengan terang apa yang hendak Ia sampaikan dalam puisinya itu.
Terakhir, Muhammad Asqalani eNeSTe menyebut "Kepadamu Kami Bicara adalah karya Iyut Fitra yang pertama kali saya baca dalam bentuk buku. Teman-teman saya; Ubai, Siti dan Pretty adalah pembaca buku-buku beliau yang setia. Aduhai, pengantar Esha Tegar Putra benar-benar mengantar saya ke gerbang pemikiran seorang Iyut."
Mencengangkan! bagaimana benda-beda semuanya bernyawa, mereka bercerita tentang sejarah kelam, pembantaian, kesunyian, terabai dan dilupakan. Benda-benda itu menjadi perantara yang menyusup ke ruang-ruang renung saya, bahwa ada yang tidak beres dan ingin dibereskan puisi-puisi Iyut. Betapa pun, pada akhirnya, ia jadi semisal penyisa lubang menganga di dada. Astaga! (*)

