Ironi Daerah Penghasil Kelapa Sawit

Harga Sawit Naik Tapi Harga Pupuk Ikut Naik Bahkan Solar pun Langka, Petani Untung?

Harga Sawit Naik Tapi Harga Pupuk Ikut Naik Bahkan Solar pun Langka, Petani Untung?

ilustrasi petani sawit

Beritariau.com, Pekanbaru - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Provinsi Riau, periode 30 Maret hingga 05 April 2022, mengalami kenaikan pada setiap kelompok umur kelapa sawit.

Namun bagi Petani, dengan mahalnya harga Pupuk ditambah BBM jenis Solar yang dipakai truk petani untuk mengangkat Tandan Buah Segar (TBS) langka, kenaikan harga Sawit dianggap tak menambah pertumbuhan ekonomi Petani

Dilaporkan Media Center Riau, hari ini, Selasa (29/03/22), kenaikan harga Sawit dengan jumlah terbesar terjadi pada kelompok umur 10 - 20 tahun sebesar Rp81,21 per Kg.

"Alhamdulillah, terjadi kenaikan mencapai 2,18 persen dari harga minggu lalu. Sehingga harga pembelian TBS petani untuk periode satu minggu kedepan naik menjadi Rp3.805,03 per kg," kata Kepala Bidang (Kabid) Pengolahan dan Pemasaran, Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Riau, Defris Hatmaja.

Ia menjelaskan bahwa naiknya harga TBS periode ini disebabkan oleh terjadinya kenaikan harga jual CPO dari beberapa perusahaan yang menjadi sumber data.

Yang mana, untuk harga jual CPO, PTPN V mengalami kenaikkan harga sebesar Rp445,00 per kg dari harga minggu lalu. Sinar Mas Group mengalami kenaikkan harga sebesar Rp290,00 per kg dari harga minggu lalu dan PT Asian Agri mengalami kenaikkan sebesar Rp429,05 per kg dari harga minggu lalu.

Sedangkan untuk harga jual kernel, perusahaan tidak ada melakukan penjualan.

"Sehingga untuk data kernel diambil rata-rata dari KPBN dengan harga sebesar Rp12.656," jelasnya.

Sementara, harga CPO pekan ini Rp15.719,32 per kg dan harga kernel Rp12.656,00 per kg.

Bagi Petani, kenaikan harga ini patut disyukuri. Namun, jika diibandingkan dengan kondisi kenaikan harga pupuk di lapangan yang mencapai 180 persen, justru tidak membantu pertumbuhan ekonomi Petani secara signifikan.

"Pupuk sekarang naik hampir 180 persen," ungkap Purba, Petani Sawit di Pelalawan.

Tak hanya masalah Pupuk. Truk pengangkut TBS Sawit Petani dari kebun ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) malah ditolak mengisi BBM jenis Solar di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

"Kita panen sawit. Truk kita BBM nya Solar, tak dikasi isi di SPBU. Solar langka, tapi truk pengangkutan kita tak dikasi. Semakin lama diantar ke PKS, semakin rusak kualitas buah kita. Harga jualnya pun menurun. Ini sama saja gak ada artinya harga sawit naik," katanya.

Sebelumnya, kisruh kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Biosolar dan dilarangnya truk roda 6 (enam) angkutan Tandan Buah Segar(TBS) Sawit di beberapa Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) viral dan menjadi perbincangan panas terkhusus di Provinsi penghasil sawit, seperti Riau.

Salah satu kelompok masyarakat yang protes tersebut adalah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Riau.

"Benar. Kami Apkasindo sudah protes keras atas kelangkaan biosolar, terkhusus pelarangan mobil truk angkutan TBS Sawit roda enam mengisi Biosolar di beberapa SPBU. Padahal, dalam Perpres Nomor 191 Tahun 2014, tentang Pendistribusian dan Harga Jual Eceran BBM (Biosolar yang disubsidi), yang dilarang menggunakan BBM biosolar yang disubsidi (sebagaimana Lampiran Perpres 191 Tahun 2014, red), adalah truk dengan roda lebih dari enam dan itu berlaku nasional," papar Ketua Apkasindo Riau, KH Suher, Minggu (27/03/22) sore kepada wartawan. (Baca : Riau Produsen B30 Terbesar di Dunia tapi Biosolar Langka, Kok Bisa?) (*)