Frans Ngaku Hanya Iseng

Calon Dirut BankRiau Ini Akui Bikin Ijazah Palsu, OJK Berhak Usut Para Calon

Calon Dirut BankRiau Ini Akui Bikin Ijazah Palsu, OJK Berhak Usut Para Calon

Ilustrasi | Beritariau.com 2014

Beritariau.com, Pekanbaru - Frans Zahrul Dinel, satu diantara sejumlah kandidat calon Direktur Utama (Dirut) Bank Riau Kepri (BRK) dalam pemilihan yang akan digelar pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), Sabtu (08/11/14) besok, mengakui memang pernah membuat ijazah jadi-jadian pada tahun 2000.

Namun, ia merasa tak pernah memakai ijazah itu untuk urusan apapun. Ijazah itu, dibuatnya dengan alasan iseng.

"Itu hanya iseng-iseng saja. Kebetulan saya jumpa seseorang yang bisa bikin Ijazah, saya pun iseng membuatnya," kata Frans kepada Beritariau.com, Kamis (06/11/2014).

Diceritakannya, bahwa ia memiliki hobby belajar dan mengikuti banyak kuliah dibeberapa perguruan tinggi. Dari kuliah itu, diakuinya, ada yang tak selesai sampai tamat. Kebetulan, ia berkenalan dengan seseorang yang mengaku bisa membuat dokumen ijazah. Ia pun tertarik dan apalagi harganya murah.

"Saya tanya berapa minggu bisa selesai. Orang itu jawab hanya dalam sehari. Akhirnya, saya buat dengan harga Rp500 Ribu," ceritanya.

Namun, kata Frans, dirinya tak pernah memakai ijazah itu. Saat ditanya apakah ini bisa saja digunakan oleh kandidat lainnya dalam pertarungan merebut jabatan Dirut BRK, ia terdiam sejenak. "Saya heran kok bisa ini dimunculkan. Kok seperti ini. Harusnya beradu kinerja," jawabnya.

Sebab, dari informasi yang dirangkum Beritariau.com, bahwa dalam pemilihan Direksi dan Komisaris BRK, harus melalui Uji Kemampuan dan Kepatutan (Fit and Proper Test, red) yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Info Negatif, OJK Berhak Wawancara

Dalam tes itu, OJK memakai Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 12 tahun 2010. Dimana, pada pasal 17, salah satu kriteria dalam syarat Uji Kemampuan dan Kepatutan baik bagi Calon Dewan Komisaris dan Dewan Direksi, harus memiliki Integritas, Kompetensi dan Reputasi Keuangan yang baik.

Selanjutnya, pada pasal 18, syarat Integritas pun ditegaskan bahwa para calon itu harus memiliki akhlak dan moral yang baik, antara lain ditunjukkan ditunjukkan dengan sikap mematuhi aturan yang berlaku. Dan, memiliki komitmen untuk mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Selain standar integritas itu, pada pasal 20, juga diwajibkan bagi para calon itu harus memiliki reputasi keuangan yang baik, semisal, tak pernah mengalami kredit macet. Sementara itu, untuk tata cara melaksakannya, diatur dalam pasal 22, yakni dalam bentuk Penelitian Administratif dan Wawancara.

Untuk wawancara, dapat dilakukan jika ditemukan adanya informasi negatif dari calon anggota Dewan Komisaris dan calon anggota Direksi bank. Sebab, PBI Nomor 8 tahun 2006 juga mewajibkan para pengelola Bank harus menerapkan Good Cooporate Governance.

Perlu diketahui, selain Frans, ada beberapa nama lain yang bisa jadi pilihan yakni, Nizam Putih (Direktur Dana dan Jasa BRK), Rafjon Yahya (dari Bank Mandiri Jakarta), Syamsul Bakri (Kepala Devisi Produk dan Jasa Bank Riaukepri).

Terkait pemberitaan ini dan sejauh mana upaya penelusuran terhadap calon lainnya, Kepala OJK Perwakilan Riau H Nurdin Subandi belum dapat dikonfirmasi Beritariau.com.

Seperti diketahui, RUPS BRK yang digelar besok di Hotel Labersa Kecamatan Siak Hulu Kabupatan Kampar, memilik agenda pemilihan Dewan Komisaris dan Direksi.

Jelang itu, sejumlah nama mulai bermunculan dalam bursa persaingan yang nantinya akan mengelola dana Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau dan Nasabah dan persaingan kandidat makin memanas. Sebab, sejak 2 tahun belakangan, BRK tak punya pemimpin.

Yang mengejutkan, diantara calon Dirut itu, Frans Zahrul terungkap pernah membuat ijazah yang diduga palsu, alias ipal. Frans adalah kandidat calon Dirut dari kalangan internal Bank Riau Kepri dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Divisi Manajemen Resiko

Sebagai seorang bankir senior kelahiran Kota Pekanbaru pada 17 Agustus 1959 silam, Frans diduga memakai ijazah palsu itu selama bertahun-tahun, namun hal itu juga dibantahnya. "Bahkan, saya gak tau lagi dimana ijazah itu," ujarnya.

Sumber Beritariau.com yang enggan dituliskan namanya menyebutkan bahwa, fakta itu terkuak saat Frans berhentinya Frans secara mendadak dan membuat orang curiga.

"Tiba-tiba dia memilih pensiun dini. Banyak orang mengaku heran saat itu," ungkap S kepada Beritariau.com, di Pekanbaru, Rabu (05/11/14) siang.

Namun katanya, dari hasil penelusuran di lapangan, belakangan diketahui bahwa pensiunnya Frans Zahrul Dinel bukan karena pilihan pribadi atau perkara biasa.

Pilihan untuk pensiun itu, lanjutnya, merupakan solusi yang harus diambil oleh manajemen Bank Riau Kepri ketika fakta mengejutkan bahwa selama ini Frans ternyata menggunakan ijazah palsu, terkuak.

Namun, hal ini juga dibantah tegas oleh Frans. "Hingga kini, saya belum pernah mengajukan pengunduran diri," kata Frans.

Data yang diperoleh dari sumber Beritariau.com, sambil menunjukkan sebuah dokumen, berupa keterangan resmi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Perbanas, Jakarta, dimana ijazah dengan Nomor Seri 0463/51 dan Nomor Induk Mahasiswa (NIM) 96120499 yang dikeluarkan tanggal 29 Juni 2000 yang dimiliki Frans selama ini ternyata palsu alias bodong.

Dimana, dalam data kemahasiswaan Perbanas NIM 96120499 itu, tercatat atas nama Riza Ravelia yang lulus pada 7 Desember 2001 lalu.

Namun, sumber ini juga mengakui bahwa Frans sebenarnya tergolong sebagai pegawai bank yang suka belajar. Selain di STIE Perbanas, Ia juga dikabarkan pernah kuliah di Universitas Jayabaya, Jakarta.

Terakhir, pada tahun 2010, Frans tercatat sebagai alumni program S1 Jurusan Akuntansi, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Adhy Niaga, Bekasi, Jawa Barat.

Namun sayangnya, katanya lagi, modus itu ketahuan. Untuk menutupi ijazah palsu itu, dia menempuh kuliah lagi di universitas lain.

"Untuk memimpin Bank Riau Kepri yang sering bermasalah ini, harus dipilih orang yang jujur. Jujur artinya konsisten. Bukan jujur sekarang, tapi selama ini hanya kebohongan," keluhnya.

Ia pun berharap, para pemegang saham harus jeli. Menurutnya, orang pintar belum tentu jujur.

"Jika Bank Riau mau diselamatkan, pilihlah orang yang benar-benar jujur. Kalau memakai kepintaran hanya untuk mengakali dan mengelabuhi, rakyat akan sengsara," katanya lagi. [red]

Tags :# ekonomi