TADABBUR 2: God’s Grace Azza Wa Jalla (ANUGERAH ALLAH AZZA WA JALLA)

TADABBUR 2: God’s Grace Azza Wa Jalla (ANUGERAH ALLAH AZZA WA JALLA)

Penulis:
Prof. Dr. Syekh Sofyan Siroj Abdul Wahab, LC., MM., Ph.D
(Dt. Setya Amanah Dewa Negeri, Kesultanan Batara Saur Darussalam)

Editor: Ali Azumar
Desain Sampul: Makmur
Penata Letak: Devin
Penerbit: Salmah Publishing

Cetakan Pertama, Januari 2026
xi + 263 hlm. 14.8 x 21 cm

ISBN: -

Orang Senang, Makan, Pakaian Mahal-mahal Untuk Apa?

Di level iman, kita harus yakin bahwa standar “senang” menurut Allah bukan gaya hidup pesta tanpa batas, tapi na‘Ä«m yang bersih dari dosa dan penyesalan.

Di zaman ketika ukuran “kesenangan” diringkas menjadi: makan di tempat hits, pakai brand mahal, dan memamerkannya di layar kaca dan media sosial, Al-Qur’an datang dengan satu pertanyaan tajam: senang yang sedang kamu bentuk ini, mau dibawa ke mana? QS. Al-Muthaffi fi n: 22–28 memaksa kita meninjau ulang defi nisi “bahagia” yang selama ini tanpa sadar kita telan mentah-mentah.

Allah berfirman tentang al-abrar – orang-orang yang berbakti:
(Innal-abrâra lafî na‘îm (22) ‘alal-arâ’iki yandhurûn (23) ta‘rifu fî wujûhihim nadlratan na‘îm (24) yusqauna mir raḫîqim makhtûm (25) khitâmuhû misk, wa fî dzâlika falyatanâfasilmutanâfi sûn (26) wa mizâjuhû min tasnîm (27) ‘ainay yasyrabu bihal-muqarrabûn (28))

“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan (22). Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan (23). Engkau dapat mengetahui pada wajah mereka gemerlapnya kenikmatan (24). Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih diberi lak (sebagai jaminan keasliannya) (25). Laknya terbuat dari kasturi. Untuk (mendapatkan) yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba (26). Campurannya terbuat dari tasnÄ«m (27), (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang didekatkan (kepada Allah) (28).” QS. Al-Muthaffi fi n: 22–28 

Secara akademik, tafsir klasik menjelaskan: na‘im di sini adalah seluruh bentuk kenikmatan surga: makan, minum, pa kai an, pasangan, tempat tinggal – tapi tanpa lelah, tanpa Tadabbur 4 God’s Grace Azza Wa Jalla
bosan, tanpa dosa. Artinya, Islam tidak alergi pada kata “nikmat”dan “senang”. Justru, Al-Qur’an menawarkan versi kesenangan yang lebih utuh dan bermartabat. Namun ada syaratnya: kesenangan itu hanya layak bagi mereka yang di dunia jujur, amanah, dan menjauhi kecurangan ala Al-Muthaffi fi n.

Di ranah fi losofi s, ayat ini mengajukan koreksi besar terhadap tiga ilusi modern. Pertama, ilusi bahwa nilai diri diukur dari mahalnya apa yang kita makan dan pakai. Padahal Al-Qur’an menjawab tegas: nilai dirimu ditentukan oleh statusmu di sisi Allah – apakah engkau termasuk abrār atau tidak.

Seorang yang bajunya sederhana, tapi jujur, jauh lebih mulia daripada yang pakaiannya mewah tapi dibeli dari uang hasil kecurangan dan penindasan. 

Kedua, ilusi bahwa kompetisi utama dalam hidup adalah perlombaan status sosial. Slogan tak tertulis zaman ini: “Siapa paling banyak memamerkan kemewahan, dialah pemenang.” Al-Qur’an membalik panggung: “Wa fÄ« dzālika falyatanafasil mutanafi sÅ«n” – “Dalam (kenikmatan akhirat) itulah tempat orang berlomba.”

Kalau lomba terbesar kita masih sebatas brand, gengsi, dan citra, berarti kita belum membaca ayat ini dengan jujur. Seharusnya yang diperebutkan adalah jatah lebih besar dalam na‘Ä«m akhirat: lebih banyak sedekah, lebih banyak memaaan, lebih banyak menolong, lebih kuat sabar dalam taat.

Ketiga, ilusi bahwa dunia adalah tempat menikmati hidup habis-habisan. Padahal Nabi SAW bersabda: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafi r.” Penjara di sini bukan berarti mukmin wajib hidup sengsara dan kumal, tetapi bahwa ia hidup dengan batas, adab, dan misi. Ia boleh makan enak, pakai bagus, tinggal layak, tetapi semua itu tidak boleh membuatnya lupa diri, zalim, dan tuli terhadap jeritan mustadh‘afÄ«n.

Dari sisi tasawuf , para sufi melihat “rahiq makhtÅ«m” Anugerah Allah Azza Wa Jalla 5 Tadabbur sebagai lambang kemurnian tauhid dan ma‘rifat. Minuman murni yang tersegel itu seperti hati yang tidak tercampur riya, tidak diseret syirik halus, tidak dipenuhi agenda ego. Orang yang sepanjang hidupnya menjaga tauhid dan niat, seakanakan sedang “menabung” seteguk rahiq di akhirat. Bahkan frasa “khitāmuhÅ« misk” – penutupnya kesturi – dibaca sebagai isyarat husnul khātimah: akhir amal orang yang ikhlas akan wangi, meski di dunia dia mungkin tidak terkenal dan tidak punya apa-apa.

Lalu, TasnÄ«m. Tafsir menyebutnya sumber mata air yang diminum orang-orang yang didekatkan kepada Allah (almuqarrabÅ«n). Secara ruhani, ini adalah cara pandang orang yang melihat dunia dari balkon akhirat. Dia mungkin tampak “kalah” di mata manusia, karena tidak ikut lomba boros dan pamer, tapi di sisi Allah dialah pemenang. Di dunia dia rela meminum pahitnya sabar dan pahitnya menahan nafsu; di akhirat dia minum langsung dari TasnÄ«m – puncak kenikmatan rohani.

Pendekatan Al-Qur’an Tadabbur & Amal mengajarkan bahwa setiap ayat harus berujung pada rumus amal. Maka untuk QS. Al-Muthaffi fÄ«n: 22–28, rumus minimalnya begini: Di level iman, kita harus yakin bahwa standar “senang” menurut Allah bukan gaya hidup pesta tanpa batas, tapi na‘Ä«m yang bersih dari dosa dan penyesalan.

Di level akhlak, kita menjauh dari segala bentuk kecurangan – termasuk “timbangan modern” seperti manipulasi laporan, mark-up anggaran, tipu branding, dan jual nama agama untuk keuntungan pribadi. Di level sosial, kita menggeser budaya kompetisi: dari pamer harta ke pamer jasa kebaikan. Pada titik ini, bahasa populis perlu bicara lugas: orang yang senang makan dan pakai mahal-mahal tidak otomatis salah. Yang bermasalah adalah ketika semua itu ditegakkan di atas uang haram, hak orang lain yang diabaikan, dan jiwa Tadabbur 6 God’s Grace Azza Wa Jalla yang makin sombong, bukan makin syukur.

Jika selama ini kita mengukur nikmat hanya dari level “rasa” – enak di lidah, nyaman di kulit – ayat ini mengajak naik kelas: mengukur nikmat dari level ruh – apakah ia mendekatkan atau menjauhkan kita dari derajat abrār dan muqarrabÅ«n. 

Pada akhirnya, tadabbur ayat-ayat ini adalah ajakan untuk jujur kepada diri sendiri: Apakah kesenangan yang kita kejar sekarang sejenis dengan na‘Ä«m yang Allah janjikan? 

Ataukah kita sedang sibuk menghias dunia dengan cara yang membuat kita tidak layak untuk “menyerikan” halaman surga seperti kata para ulama itu? 

Semoga setiap suapan makanan, setiap helai pakaian, dan setiap bentuk “kemewahan” yang singgah di hidup kita bukan sekadar episode “mahal-mahal tanpa makna”, tetapi berubah menjadi simbol syukur, amanah, dan bekal menuju na‘Ä«m abadi.

Dan di hari ketika segala wajah dihadapkan kepada Allah, kita memohon agar wajah kita – meski dulu di dunia tidak banyak dikenal – termasuk yang disambut dengan “nadratan an-na‘Ä«m”: sinar kesenangan yang lahir dari tauhid, kejujuran, dan kesetiaan pada jalan-Nya. (*)