Media Coffee Morning Hutama Karya dan Pers

Hutama Karya Connect: Isu Lahan dan Truk ODOL Biang Kerok Perusak Jalan Tol

Hutama Karya Connect: Isu Lahan dan Truk ODOL Biang Kerok Perusak Jalan Tol

Kepala Regional Sumatera Bagian Tengah PT Hutama Karya, Bromo Waluko Utomo, dalam bincang Media Coffee Morning “HK-Connect” bersama sejumlah insan pers di Pekanbaru, Jumat, 1 Agustus 2025 | Istimewa

Pekanbaru - Manajemen PT Hutama Karya (Persero) bicara blak-blakan terhadap sejumlah isu Jalan Tol wilayah Pekanbaru dan sekitarnya. Kendala lahan Jalan Tol Lingkar Pekanbaru (Junction Pekanbaru – Bypass Pekanbaru) dan rusaknya jalan tol yang berlubang dan bergelombang.

"Panjangnya (Jalan Tol Lingkar, red) hanya 30 kilometer lebih tapi melibatkan 4.500 bidang tanah yang harus diselesaikan. Saat ini, masih ada 1.500 bidang tanah lagi dalam proses penyelesaian," kata Kepala Regional Sumatera Bagian Tengah PT Hutama Karya, Bromo Waluko Utomo, dalam bincang Media Coffee Morning “HK-Connect” bersama sejumlah insan pers di Pekanbaru, Jumat, 1 Agustus 2025.

Sejauh ini, kata Bromo, progres strategis pembangunan Jalan Lingkar Tol sudah mencapai 50 persen lebih. Rencananya, jalan ini memiliki lebar 3,6 meter per lajur dengan 2 (dua) lajur tiap jalurnya dan desain kecepatan maksimal 100 km/jam. Serta dilengkapi dengan 3 (tiga) pintu masuk dan keluar di Rimbo Panjang, Jalan Siak, dan Muara Fajar, untuk memudahkan akses masyarakat. 

Infrastruktur penting lainnya dalam ruas ini adalah jembatan utama sepanjang 97,5 meter dengan total panjang jembatan 200 meter yang melintasi Sungai Siak.

Jalan Tol Lingkar ini sendiri merupakan bagian integral dari jaringan Jalan Tol Pekanbaru-Rengat yang akan tersambung dengan Tol Pekanbaru-Dumai dan Tol Pekanbaru-Bangkinang-XIII Koto Kampar.

Dengan adanya integrasi Jalan ini, akan menciptakan ekosistem transportasi yang memungkinkan distribusi barang dan jasa menjadi lebih efisien.

Namun, selain terkait proyek Jalan Tol Lingkar, Hutama Karya mengungkap masalah rutin dan krusial yang menjadi keluhan masyarakat yaitu rusaknya sejumlah ruas Jalan Tol khususnya Tol Pekanbaru - Dumai yang berlubang dan bergelombang.

Menurut Bromo, 'biang kerok' nya adalah akibat lalu lintas angkutan mobil barang yang masuk kategori Over Dimension and Over Load (ODOL).

"Kendaraan ODOL membuat kerusakan jalan terparah. Kita masih diskusi dengan Korlantas Polri dan BPTD (Balai Pengelola Transportasi Darat). Komplek masalahnya. Kita sudah berulang kali melakukan razia. Namun, dari Pelaku Usaha Transportasi juga memiliki alasan cost yang bertambah akan mempengaruhi kenaikan harga barang. Hal ini masih terus kita diskusikan solusinya. Meski perbaikan Jalan rusak selalu kita lakukan, tapi kendaraan ODOL masuk kembali merusak lapisan jalan," papar Bromo.

Ia mengatakan, pihaknya terus berupaya mensosialisasikan kampanye zero ODOL di jalan tol sebagai bagian dari upaya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan berkendara.

Termasuk menggelar Operasi Microsleep dan Operasi Simpatik, baik mendampingi dan mengedukasi pengemudi, terutama terkait bahaya mengemudi dengan muatan berlebih, yang dapat mengganggu stabilitas kendaraan dan memperpanjang jarak pengereman.

"Kita sosialisasi terus soal ODOL ini," sebutnya.

Untuk diketahui, hingga saat ini, Hutama Karya telah membangun JTTS sepanjang ±1.235 km, termasuk ruas yang beroperasi maupun dalam tahap konstruksi. ruas tol yang telah beroperasi penuh antara lain: Tol Bakauheni – Terbanggi Besar (140 km), Tol Terbanggi Besar – Pematang Panggang – Kayu Agung (189 km), Tol Palembang – Indralaya (22 km), Tol Indralaya - Prabumulih (64 Km), Tol Betung - Jambi Seksi 3 (Bayung Lencir - Tempino) (33,6 Km), Tol Bengkulu – Taba Penanjung (16,725 km), Tol Pekanbaru – Dumai (132 km), Tol Medan – Binjai (17 km) Tol Binjai – Langsa Seksi Binjai – Pangkalan Brandan (58 km), Tol Pekanbaru - XIII Koto Kampar (55,4 Km), Tol Padang - Sicincin (35,45 Km), Tol Indrapura – Kisaran (48 km), Tol Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Sinaksak (91 km), dan Tol Sigli Banda Aceh Seksi 2 – 6 (49 km)

Dalam kesempatan tersebut, Bromo dan Jajaran menyatakan, dalam pelaksanaan pekerjaan, PT Hutama Karya selalu memperhatikan tanggung jawab sosial, baik melalui dialog dengan masyarakat untuk memastikan aspirasi tertampung dengan baik. (*)