Pengamat: KIB dan KKIR Ingin Gabung karena Gagal Tandingi Capres KPP

Pengamat: KIB dan KKIR Ingin Gabung karena Gagal Tandingi Capres KPP

Pengamat politik dari Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga/Net

Beritariau.com, Jakarta - Setiap pernyataan politik yang muncul tidak harus dipahami secara tersurat. Sebab, dalam budaya politik Indonesia, hal tersirat justru yang menjadi makna sesungguhnya.

Begitu kata pengamat politik dari Universitas Esa Unggul Jamiluddin Ritonga dalam membaca alasan wacana pembentukan Koalisi Besar. 

Disebutkan bahwa penggabungan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) dan Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) ini akan dibentuk untuk memastikan kelanjutan pembangunan yang dilaksanakan Presiden Joko Widodo.

Bagi Jamiluddin, pembentukan koalisi ini merupakan reaksi atas sambutan luar biasa rakyat kepada Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP). Walau hanya diisi tiga partai, koalisi yang mengusung Anies Baswedan sebagai calon presiden tersebut telah mencuri perhatian publik.  

"Karena itu, wacana bergabungnya KKIR dan KIB menjadi Koalisi Besar tampaknya reaksi atas terbentuknya KPP. Koalisi ini mendapat sambutan luar biasa di tengah masyarakat," kata Jamiluddin, seperti dikutip dari Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (9/4).

Mantan Dekan Fikom IISIP ini menilai, KIB dan KKIR gagal dalam memunculkan capres yang bisa menandingi Anies Baswedan. Atas dasar itu, koalisi besar diyakini bisa membuat mereka mengungguli  KPP.

"Jadi, muncul ketakutan kalau Anies menang pada Pilpres 2024. Setidaknya, ada ketakutan mereka yang ingin bergabung dalam Koalisi Besar,"demikian Jamiluddin. (*)