Perkumpulan Elang Beri Masukan ke Pemprov Riau untuk Sukseskan FOLU Net Sink 2030

Perkumpulan Elang Beri Masukan ke Pemprov Riau untuk Sukseskan FOLU Net Sink 2030

Direktur Perkumpulan Elang, Janes Sinaga

Beritariau.com, Pekanbaru - LSM Perkumpulan Elang memberi masukkan kepada Pemerintah Provinsi Riau terkait sosialisasi FoLu Net Sink 2030 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beberapa waktu lalu. 

Terhadap FoLu Net Sink 2030, Gubernur Riau, Syamsuar menyatakan dukungan terhadap pencapaian FoLU Net Sink 2030 dan Riau siap berkontribusi untuk mensukseskan hal tersebut. 

Hal itu, akan dijabarkan dalam dokumen rencana kerja FoLU Net Sink Sub Nasional Provinsi Riau yang akan disusun hingga bulan september mendatang. 

Dalam hal ini, Perkumpulan Elang menilai kontribusi terhadap penurunan emisi serta capaian FoLU Net Sink, Provinsi Riau memiliki peluang cukup besar melalui upaya restorasi dan perlindungan hutan alam tersisa.

Berdasarkan analisis citra satelit, tutupan hutan alam tersisa di Provinsi Riau pada tahun 2020 seluas 1,5 juta hektar. Salah satu tutupan hutan alam terluas berada di bentang alam Semenanjung Kampar. Bentang alam ini diapit dua sungai besar, Sungai Kampar di sebelah selatan dan Sungai Siak di sebelah utara.

Direktur Perkumpulan Elang, Janes Sinaga mencatat bahwa tahun 2020 tutupan hutan alam Semenanjung Kampar seluas 385.807 hektar, 25% dari total tutupan hutan alam tersisa di Riau. Dengan luasan tersebut, Semenanjung Kampar memiliki potensi penyerapan gas rumah kaca sangat besar.

Janes menyatakan, bahwa pemerintah provinsi harus melihat bentang alam ini sebagai sesuatu yang penting dan mengupayakan perlindungan dan pemulihan di lokasi tersebut.

Perlu komitmen yang kuat dari pemerintah daerah agar bentang alam ini dapat terjaga kelestariannya demi capaian penyerapan gas rumah kaca yang optimal dari Provinsi Riau.

“Upaya penyelamatan Sememenanjung Kampar telah diinisiasi oleh Perkumpulan Elang dengan mendorong komitmen dari dua pemerintah kabupaten, Siak dan Pelalawan. Perlu perhatian serius dari Pemerintah Provinsi agar upaya ini dapat mencapai hasil yang maksimal,” katanya, Selasa (9 Agustus 2022).

Selain capaian penyerapan emisi karbon melalui sektor kehutanan dan penggunaan lahan, rencana kerja FoLU Net Sink 2030 sub nasional Provinsi Riau juga harus mempertimbangkan manfaat yang didapat oleh agar masyarakat mau berkontribusi dalam menjaga kelestarian hutan. 
 
“Selama ini masyarakat hanya menjadi penonton dan korban dari proses pemanfaatan kawasan hutan oleh perusahaan-perusahaan besar. Dengan adanya rencana FoLU Net Sink 2030 masyarakat harus ditempatkan menjadi pelaku utama yang mendapatkan manfaat baik manfaat lingkungan maupun manfaat ekonomi,” ujar Janes. 

Percepatan capaian perhutanan sosial, diprediksi dapat menjadi solusi jika pemerintah provinsi serius ingin berkontribusi dalam capaian FoLU Net Sink Indonesia.

Disamping menjaga kelestarian hutan, masyarakat bisa memanfaatkan kawasan hutan untuk kepentingan ekonomi. Namun, hingga hari ini Perkumy Elang mencatat bahwa capaian perhutanan sosial di Riau masih sangat rendah.

“Perhutanan sosial menjadi solusi agar upaya pelestarian hutan dalam rangka mengurangi emisi karbon dapat berjalan dengan baik. Disamping hutan terjaga, masyarakat juga mendapatkan manfaat ekonomi melalui pemenfaatan kawasan hutan," tutur Janes

Disamping itu, perbaikan tata kelola dan pemanfaatan hutan dan lahan juga harus diperbaiki sehingga perbaikan lingkungan yang dicita-citakan dapat dicapai dan bukan hanya sekedar ekspektasi. (*)